Pages

Kesimpulan

Rabu, 18 April 2012

Ceritanya berawal ketika seorang petani yang tinngal di sebuah desa di sebuah negeri mempunyai seekor kuda yang sangat gagah perkasa. Postur tubuhnya yang kuat, bulunya yang indah, warnanya yang putih bersih dan tentu saja larinya yang sangat kencang membuat sang penguasa negeri tertarik untuk membeli kuda tersebut dengan harga yang tinggi. Tapi di luar dugaan karena terlalu sayang dengan kudanya sang petani menolak tawaran Raja. Tetapi beberapa hari kemudian tanpa dikira kuda sang petani tadi hilang tidak diketahui rimbanya. Kemudian datanglah komentar-komentar dari para tetangganya.

“Merugilah Kau, menolak tawaran raja dan sekarang kudamu malah hilang.” Ada juga yang berkata,”Dasar tak tahu diri, ini semua terjadi karena Kau menolak tawaran dari Raja.” Dan komentar-komentar senada lainnya. Sedangkan sang petani hanya diam mendengar komentar-komentar tetangganya.

Tetapi secara mengejutkan setelah hilang beberapa hari sang kuda pulang kembali ke rumah tanpa diminta. Dan tidak sendirian. Sang kuda membawa serombongan kuda lain yang sekualitas dengan dirinya. Jadilah sang petani sekarang tidak hanya memiliki seekor kuda tapi berekor-ekor kuda yang bagus semua.

Dan tanpa diminta para tetangganya pun berkomentar lagi. “Wah, beruntungnya Kau. Ternyata keputusanmu untuk tidak menjual kudamu dulu adalah keputusan tepat.” Ada juga yang lebih ekstrim komentarnya. “Sepertinya Kau punya indra keenam. Bisa meramal kejadian di masa mendatang.” Dan petani pun hanya tersenyum mendengar komentar-komentar tersebut.

Tetapi kejadiannya tidak berhenti hanya sampai disitu. Ada kejadian mengejutkan lainnya lagi beberapa hari kemudian. Kaki dan tangan putra sang petani patah karena terinjak kuda-kuda peliharaannya. Sedih? Pastilah petani tersebut sedih bahkan menangis. Karena dia hanya punya satu orang putra dan sekarang tangan dan kaki putranya patah.

Dan sekali lagi para tetangganya pun berkomentar. “Aiih, untung tak dapat diraih, malang tak bisa dihindar. Harusnya dari dulu sudah kau jual kudamu itu sejak Raja menawarnya. Hingga tak patah kaki dan tangan putramu.”

Malang memang tak bisa dihindar, tapi untung ternyata selalu tau cara dan waktu yang tepat untuk menghampiri empunya. Tidak lama setelah kejadian patah kaki dan tangan putra sang petani, ada pengumuman diberlakukannya wajib militer untuk semua pemuda di negri tersebut. Sedang ada perang melawan negri seberang sehingga Raja mewajibkan setiap pemuda yang sehat untuk ikut perang membela negrinya.

Dan berbondong-bondonglah para tetangga menemui sang petani. “Kau memang sangat beruntung. Tidak harus kehilangan putra karena ikut berperang.” Sambil terisak-isak meratapi nasib putranya. Selama ini sang petani hanya diam menanggapi semua komentar dari tetangganya terhadap semua kejadian yang dia alami. Tapi akhirnya dia berkata, “Allah selalu tau semua yang terbaik untuk hamba-Nya dan Jangan terlalu mudah membuat kesimpulan terhadap kejadian yang kita alami. Itu yang sering membuat kita kecewa.”


**************
diceritakan ulang berdasarkan cerita yang pernah didengar dan dibaca tetapi lupa sumbernya ^_*

Ksatria dan Kekerasan

Minggu, 15 April 2012

Dengan lantang ia berbicara. “Aku hanya menggunakan hak kemarahanku.” aku Drupadi. “Setiap kemarahan yang mempunyai dasar alasan, layak diperjuangkan. Kemarahan adalah hak setiap manusia. Bahwa setiap penghinaan harus diberi pelajaran.”

“Lalu siapa yang lebih jahat Drupadi? Dursasana yang menelanjangimu atau Bima yang meminum darah Dursasana?” gugat Kresna. “Pandawa adalah pertapa sejati. Tapi sekarang, di seluruh anak benua tidak ada pembunuh yang lebih kejam yang dapat melebihi mereka.”

“Kau tahu segalanya Kresna tapi kau tak pernah mengalaminya. itu masalah terbesar dalam hidupmu. Jangan bicara soal kekerasan di depan seorang perempuan yang sering jadi korban kekerasan.” cerca Drupadi. “Apakah status pertapa harus menghalangi kita untuk menjadi ksatria? Pandawa adalah ksatria dan seorang ksatria ada tidak untuk dihina. Penghinaan bagi ksatria sama dengan penghinaan kepada seluruh manusia. Aku adalah bagian dari Pandawa, aku adalah manusia, dan aku tidak akan membiarkan diriku dihina.”

“Ini hanya akan membuktikan bahwa tidak hanya perempuan yang bisa menjadi korban kekerasan, Drupadi.” jawab Kresna. “Dengan cara yang lain kaum lelaki pun bisa menjadi korban kekerasan. Perang sering diartikan perlambang kekerasan. Tapi sesungguhnya perang juga perlambang baik dan buruk. Dan hidup di dunia bukan hanya soal menjadi baik atau menjadi buruk. Tetapi juga soal bagaimana kita bersikap kepada kebaikan dan keburukan.”

“Perang ini menyimpan sebuah pertanyaan Drupadi. Apakah jalan kekerasan para kstaria ini dapat dibenarkan?” tanya Kresna.

“Lalu salahkah aku jika menuntut sebuah penegakan keadilan hatta dengan jalan kekerasan?” rongrong Drupadi. “Memaafkan ketidakadilan hanya karena atas nama kesabaran dan kebesaran jiwa adalah kesabaran yang semu. Itu sebuah pengingkaran terhadap kehidupan. Adalah menjadi tugas para ksatria untuk selalu membela kebenaran dan keadilan.” tandas Drupadi. “Seorang ksatria tidak boleh melupakan kewajibannya.”

“Tidak ada yang suka jadi korban kekerasan bahkan pelaku kekerasan sekalipun. Tetapi di muka bumi ini selalu saja ada orang-orang jahat yang suka melakukan kekerasan. Terkadang memang tidak ada bahasa yang lebih ampuh untuk membungkam kekerasan selain kekerasan itu sendiri. Tapi haruskah Kekerasan Drupadi?”

" Persis seperti apa yang telah kau ucapkan Kresna. Bahwa perang sesungguhnya juga merupakan perlambang baik dan buruk tidak hanya soal kekerasan. Bahwa ketika kita memilih untuk perang bukan berarti kita langsung menjadi orang buruk, bukan berarti kita tidak mencintai kedamaian." pelan Drupadi mencoba menjelaskan.

"Aku hanya ingin menegaskan bahwa bahwa bagaimanapun caranya setiap kebenaran dan keadilan harus ditegakkan
 

Most Reading

Ads 200x200

Sidebar One