Pages

Special Friend

Sabtu, 12 Maret 2016



Sometimes in our life, we find a special friend
Someone who can make you laugh until you can’t stop
Someone who changes your  life just being a part of it
Someone who makes you to be brave and wise to face of life
And someone who make you believe that always there is really good thing in the world
And i know now....undoubtedly, you are the one of them... 



Moving on

Kamis, 07 Januari 2016



Memilih itu sulit
Karena memilih berarti harus mengambil keputusan
Selalu ada bisikan apakah ini sudah tepat?
Atau sebaiknya menunggu saja untuk alterantif pilihan yang lain
Yang mungkin akan menemukan sesuatu yang lebih baik walaupun belum tentu juga

Rasanya tidak ingin tergesa-gesa
Ingin memastikan bahwa ini adalah yang terbaik
Apalagi pilihan yang bersangkutan dengan rencana besar dalam hidup
Karena menunggu itu adalah misteri
Semua kemungkinan menjadi mungkin

Tetapi  setiap penantian harus ada akhirnya
Setiap persimpangan harus ada pilihannya
Agar kita tidak terpaku pada suatu hal terlalu lama
Dan katanya hidup itu memang pilihan
Jadi orang bilang harus bisa move on

Yah…….seperti katanya bang Ridho Rhoma
I’m crying for the happiness
And I’m gonna strat to move
Moving on…. La..la..la..la..

Arok - Dedes


Hasil gambar untuk arok dedes pramoedya ananta toer Aku ingat, pertama kali tahu nama Ken Arok dan Ken Dedes dari serial sandiwara radio yang sering kudengar waktu masih kecil. Daerah asalku termasuk kampong. Jadi saat saat daerah lain sudah merasakan terangnya lampu listrik dari PLN, daerahku agak terlambat merasakannya. Jadilah mendengarkan radio sebagai alternative hiburan saat tidak bisa menonton TV karena setrum akinya habis.

 Waktu itu, yang paling melekat dalam ingatanku adalah kisah tentang kutukan tujuh turunan Mpu Gandring kepada Ken Arok akibat ia merebut keris Mpu Gandring kemudian membunuhnya dengan keris tersebut. Mpu Gandring bersumpah bahwa tujuh turunan Ken Arok akan mati karena keris tersebut. Pun begitu ketika guruku mengajarkannya. Ketika pelajaran sejarah tentang kerajaan-kerajaan besar di Jawa waktu di SD. Jadi pelajaran yang bisa kuambil adalah jangan pernah merebut barang milik orang lain karena jika kita melakukannya kita akan mendapat celaka. That’s all. 
Tapi berbeda ketika aku membaca dari buku ARok Dedes karangan Om Pram (jiaaaahh…SKSD, manggil-manggil om). Bahwa kisah tentang penguasa Tumapel tersebut tidaklah sesederhana itu. Bukan hanya tentang kutukan mistis Mpu Gandring ke Ken Arok. Bahkan dalam bukunya Om Pram tidak pernah mengisahkannya. Mpu Gandring yang pada kisah versi sebelumnya diceritakannya hanya sebagai Mpu korban Ken Arok, pada bukunya Om Pram memceritakan Mpu Gandring juga memiliki peran pada kudeta Ken Arok melawan penguasa Tumapel sebelumnya, Tunggul Ametung. Jadi Mpu Gandring juga ikut bermain politik bersama Ken Arok dan pejabat-pejabat lain di Tumapel untuk menjatuhkan Tunggul Ametung. Yang waktu itu terkenal korup, semena-mena dan suka mengambil istri orang lain sesukanya. 
Mpu Gandring memang kemudian dikisahkan mati. Tetapi bukan karena dibunuh Ken Arok saat merebut kerisnya. Tetapi karena Mpu Gandring berkhianat kepada Ken Arok akibat termakan bujuk rayu raja Kediri yang tidak senang dengan Ken Arok. Sri Kertajaya merasa Arok akan sulit dikendalikan. Ia khawatir pasokan upeti dari Tumapel ke Kediri akan seret setelah Arok yang berkuasa di Tumapel. Mpu Gandring dijanjikan akan menjadi penguasa baru menggantikan Tunggul Ametung. Jadi ini tidak hanya soal kutukan mistis tujuh turunan tetapi lebih pada bagaimana kisah perebutan kekuasaan dilakukan. Tentang segala macam intrik, konspirasi, cara-cara cerdik cenderung licik yang digunakan, dan karakter-karakter orang yang terlibat dalam perebutan kekuasaan. Tentang adu domba, perang psikis yang sengaja dihadirkan antar kubu, pelembaran isu bahkan pencintraan tokoh-tokoh yang terlibat juga dilakukan. Tentang penyamaran motif perebutan kekuasaan menjadi penuntutan terhadap keadilan dan perjuangan pembebasan kaum-kaum tertindas. Persis seperti drama politik kekinian.
Kisah petualangan Ken Arok berakhir dengan keberhasilan dia merebut kekuasaan Tumapel setelah Tunggal Ametung mati. Dan akhirnya dapat menjadi penguasa Tumapel bahkan menikahi Dedes, ex-wife Tunggul Ametung. Disaat Dedes mengandung anak dari Tunggal  Ametung. Dedes menjadi permasuri tetapi sebenarnya dia istri kedua  karena sebelumnya Arok sudah menikah dengan teman masa kecilnya, Ken Umang. Dan saat itu Ken Umang juga sedang mengandung anak kandung dari Ken Arok.
Dan sudah diduga kelanjutan kisahnya. Arok yang notabene adalah rakyat jelata, tak jelas asal usulnya bahkan siapa orang tuanya, tidak memiliki darah keturunan bangsawan kemudian bisa menjadi penguasa tumapel. Banyak yang tidak terima, banyak yang bermuka dua terutama mantan bawahan-bawahan Tunggal Ametung yang dengan terpaksa berpindah haluan setelah melihat semakin melemahnya kekuasaan Tunggul Ametung. Dan kisah kudeta serta perebutan kekuasaan tidak berhenti sampai disini.
Anusapati, keturanan Ametung-Dedes diceritakan kemudian membunuh Tohjaya, anak Arok-Umang. Bahkan melalukan kudeta terhadap ayah tirinya sendiri setelah mendapat hasutan tentang kisah tragis kematian ayah kandungnya. Dia tidak tahu bahwa justru ibunya sendiri yang membunuh ayah kandungnya tersebut. Kudeta Anusapati tidak berhasil dan kemudian dia melarikan diri. Dari garis keturunannya kemudian dikisahkan terlahir calon raja salah satu kerajaan besar di Jawa, Singasari. Arok tetap berkuasa di Tumapel sampai akhir hayatnya. Dari garis keturunan Arok-Dedes terlahir pendiri kerajaan terbesar di Jawa sepanjang sejarah yaitu Majapahit. Dialah Raden Wijaya. 
Om Pram mengatakan, roman Arok-Dedes menggambarkan peta kudeta politik kompleks yang “disumbang” Jawa untuk Indonesia. Menginspirasi terjadinya kudetatidak langsung yang dikenal dengan “kudeta merangkak”. 
Dialog menarik yang mengambarkan seperti apa kudeta yang terjadi. “Mungkin kau lupa. Jatuhkan Tunggul Ametung seakan tidak karena tanganmu. Tangan orang lain yang melkaukannya. Dan orang tersebut harus dihukum di depan umum berdasar bukti tak terbantahkan. Kau mengambil jarak secukupnya dari perit wa itu.”

 

Most Reading

Ads 200x200

Sidebar One