Waktu itu, yang
paling melekat dalam ingatanku adalah kisah tentang kutukan tujuh turunan Mpu
Gandring kepada Ken Arok akibat ia merebut keris Mpu Gandring kemudian
membunuhnya dengan keris tersebut. Mpu Gandring bersumpah bahwa tujuh turunan
Ken Arok akan mati karena keris tersebut. Pun begitu ketika guruku
mengajarkannya. Ketika pelajaran sejarah tentang kerajaan-kerajaan besar di
Jawa waktu di SD. Jadi pelajaran yang bisa kuambil adalah jangan pernah merebut
barang milik orang lain karena jika kita melakukannya kita akan mendapat
celaka. That’s all.
Tapi berbeda
ketika aku membaca dari buku ARok Dedes karangan Om Pram (jiaaaahh…SKSD,
manggil-manggil om). Bahwa kisah tentang penguasa Tumapel tersebut tidaklah
sesederhana itu. Bukan hanya tentang kutukan mistis Mpu Gandring ke Ken Arok.
Bahkan dalam bukunya Om Pram tidak pernah mengisahkannya. Mpu Gandring yang
pada kisah versi sebelumnya diceritakannya hanya sebagai Mpu korban Ken Arok,
pada bukunya Om Pram memceritakan Mpu Gandring juga memiliki peran pada kudeta
Ken Arok melawan penguasa Tumapel sebelumnya, Tunggul Ametung. Jadi Mpu
Gandring juga ikut bermain politik bersama Ken Arok dan pejabat-pejabat lain di
Tumapel untuk menjatuhkan Tunggul Ametung. Yang waktu itu terkenal korup,
semena-mena dan suka mengambil istri orang lain sesukanya.
Mpu Gandring
memang kemudian dikisahkan mati. Tetapi bukan karena dibunuh Ken Arok saat
merebut kerisnya. Tetapi karena Mpu Gandring berkhianat kepada Ken Arok akibat
termakan bujuk rayu raja Kediri yang tidak senang dengan Ken Arok. Sri
Kertajaya merasa Arok akan sulit dikendalikan. Ia khawatir pasokan upeti dari
Tumapel ke Kediri akan seret setelah Arok yang berkuasa di Tumapel. Mpu
Gandring dijanjikan akan menjadi penguasa baru menggantikan Tunggul Ametung.
Jadi ini tidak hanya soal kutukan mistis tujuh turunan tetapi lebih pada
bagaimana kisah perebutan kekuasaan dilakukan. Tentang segala macam intrik,
konspirasi, cara-cara cerdik cenderung licik yang digunakan, dan
karakter-karakter orang yang terlibat dalam perebutan kekuasaan. Tentang adu
domba, perang psikis yang sengaja dihadirkan antar kubu, pelembaran isu bahkan pencintraan
tokoh-tokoh yang terlibat juga dilakukan. Tentang penyamaran motif perebutan
kekuasaan menjadi penuntutan terhadap keadilan dan perjuangan pembebasan
kaum-kaum tertindas. Persis seperti drama politik kekinian.
Kisah
petualangan Ken Arok berakhir dengan keberhasilan dia merebut kekuasaan Tumapel
setelah Tunggal Ametung mati. Dan akhirnya dapat menjadi penguasa Tumapel
bahkan menikahi Dedes, ex-wife Tunggul
Ametung. Disaat Dedes mengandung anak dari Tunggal Ametung. Dedes menjadi permasuri tetapi
sebenarnya dia istri kedua karena
sebelumnya Arok sudah menikah dengan teman masa kecilnya, Ken Umang. Dan saat
itu Ken Umang juga sedang mengandung anak kandung dari Ken Arok.
Dan sudah
diduga kelanjutan kisahnya. Arok yang notabene adalah rakyat jelata, tak jelas
asal usulnya bahkan siapa orang tuanya, tidak memiliki darah keturunan
bangsawan kemudian bisa menjadi penguasa tumapel. Banyak yang tidak terima,
banyak yang bermuka dua terutama mantan bawahan-bawahan Tunggal Ametung yang
dengan terpaksa berpindah haluan setelah melihat semakin melemahnya kekuasaan
Tunggul Ametung. Dan kisah kudeta serta perebutan kekuasaan tidak berhenti
sampai disini.
Anusapati,
keturanan Ametung-Dedes diceritakan kemudian membunuh Tohjaya, anak Arok-Umang.
Bahkan melalukan kudeta terhadap ayah tirinya sendiri setelah mendapat hasutan
tentang kisah tragis kematian ayah kandungnya. Dia tidak tahu bahwa justru
ibunya sendiri yang membunuh ayah kandungnya tersebut. Kudeta Anusapati tidak
berhasil dan kemudian dia melarikan diri. Dari garis keturunannya kemudian
dikisahkan terlahir calon raja salah satu kerajaan besar di Jawa, Singasari.
Arok tetap berkuasa di Tumapel sampai akhir hayatnya. Dari garis keturunan
Arok-Dedes terlahir pendiri kerajaan terbesar di Jawa sepanjang sejarah yaitu
Majapahit. Dialah Raden Wijaya.
Om Pram
mengatakan, roman Arok-Dedes menggambarkan peta kudeta politik kompleks yang
“disumbang” Jawa untuk Indonesia. Menginspirasi terjadinya kudetatidak langsung
yang dikenal dengan “kudeta merangkak”.
Dialog menarik
yang mengambarkan seperti apa kudeta yang terjadi. “Mungkin kau lupa. Jatuhkan
Tunggul Ametung seakan tidak karena tanganmu. Tangan orang lain yang
melkaukannya. Dan orang tersebut harus dihukum di depan umum berdasar bukti tak
terbantahkan. Kau mengambil jarak secukupnya dari perit wa itu.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar