Pages

Special Gift

Sabtu, 30 November 2013

Dua Puluh Sembilan Tahun
by Ebti Uji Rahayu
 
Menjalani takdir demi takdir di dunia ini terkadang tidak mudah. Sebab kita dihadapkan dua sisi kehidupan. Kadang bahagia namun terkadang juga sedih. Kadang berhasil namun acapkali juga mengalami kegagalan. Terkadang dicintai namun di sisi lain kita rasakan patah hati. 
 
Bagaimanapun, cerita hidup itu masih belum berakhir. Dan nyatanya aku dan kamu telah menjalani takdir demi takdir itu selama dua puluh sembilan tahun. Bukan waktu yang sebentar kan?
 
Dua puluh Sembilan tahun aku dan kamu menghirup udara yang sama, menapaki tanah yang sama, dan mencuci muka dengan air yang sama, bahkan kita pun berada di naungan langit yang sama. Namun, cerita hidup kita berbeda. Dan kau tau, itulah indahnya hidup, agar aku dan kamu bisa saling bercerita. Bercerita tentang bahagia, sedih, keberhasilan, kegagalan, dicintai dan rasanya patah hati. 
 
Dua puluh Sembilan tahun teman, apakah kau bosan? Dan semoga jika kau temui kebosanan itu kau ingat pesanku. Allah menghidupkan kita di dunia hanya beberapa puluh tahun, namun Dia ingin cerita hidup kita hidup lebih dari seratus tahun. Sanggupkah kau?
 
******************************************
PS. : Kado ultah dari sohib. Terima kasih banyak mb Ebti Uji Rahayu, so meaningful.. :)

Visi Seekor siput

Rabu, 16 Oktober 2013

Di awal musim semi, seekor siput terlihat sedang berjalan merayap menuju puncak sebuah pohon. Serombongan burung melihat perbuatannya dan memandang aneh dengan apa yang dilakukan oleh siput tersebut.

“Hai siput tolol, apa yang sedang kau lakukan?” kata salah satu dari mereka sambil tersenyum nyinyir. “berhentilah memanjat, di atas sana tidak apa-apa.”

Sambil mengejek seekor burung yang lain berkata, “Simpanlah tenagamu, jangan kau sia-siakan untuk melakukan perbuatan bodoh seperti itu.”

Mendengar semua ejekan tersebut dengan tenang dan percaya diri si siput menjawab. “Ketika saya sudah sampai di atas sana, pohon ini akan mulai berbuah.”

*************--------***********
PS : It's mean a lot for me...

Que Sera Sera

Minggu, 25 Agustus 2013

When I was just a little girl
I asked my mother, "What will I be?"
"Will I be pretty?"
"Will I be rich?"
Here's what she said to me
"Que sera sera
Whatever will be, will be
The future's ours not to see
Que sera sera
What will be, will be"

When grew up and fell in love
I asked my sweetheart, "What lies ahead?"
"Will we have rainbows?"
"Day after day?"
Here's what my sweeetheart said
"Que sera sera
Whatever will be, will be
The future's  ours not to see
Que sera sera
What will be, will be."
.......................................................

writen by Jay Livingstone and Ray Evans

***********************************
sumpah, gue suka banget lagu ini ^_^



Sampah

Jumat, 08 Februari 2013

Sampah di hati ini mulai menumpuk. Sudah over kapasitas dari perjanjian semula. Ruangnya telah menjarah jatah penghuni yang lain. Saatnya untuk tidak main-main lagi. Lampu indicator sudah menunjukkan lampu kuning dengan kedipan yang sangat cepat. Menunjukkan kondisi sudah siaga I. Jadi ada yang harus diperbaiki dari diri ini. Saatnya prosesi “genocide” harus segera dilakukan terhadap sampah-sampah tersebut.

Berinteraksi dengan orang lain memang sering memberi peluang untuk menghasilkan sampah di hati. Tapi sebagai manusia normal interaksi antar manusia itu kan sesuatu yang menjadi kebutuhan dasar. Bukan manusia kalo ga berinteraksi dengan yang lain.
Jadi inti permasalahannya bukan pada interaksimu dengan orang lain. Tapi pada bagaimana kita mengelola hati kita. 

Terpikir sebuah solusi. Jadi..biar sampahnya ga menumpuk, harus disediakan tempat sampah yang banyak dengan sistem pemilah-milahan sampah berdasarkan unsur pembentuknya. Jadi sampah yang sejenis dibuang pada tempat sampah yang sama. Biar lebih gampang proses daur ulangnya. Dan metode cukup berhasil untuk menanggulangi masalah sampah di perkotaan. Semoga juga bisa berlaku untuk sampah di hati saya.

Dan ada sebuah gerakan yang ingin saya sukseskan tahun ini. Gerakan Hati Bersih dan Ramah Lingkungan. Mau bergabung??

Dejavu

Senin, 04 Februari 2013



I know you again about a month ago. May be it is not the first meet. But I don’t know, it’s like the first time I saw you. You looks so different  from before .More awesome, cool and shining.

Unbelieveable. Absolutly, yes I love at first sight.

Antara kita dan Mereka



Terkadang hidup kita, ternyata tidak murni hanya milik diri kita sendiri. Ada banyak orang yang tanpa kita sadari menggantungkan keberlangsungan hidupnya pada diri kita. Atau setidaknya apa-apa yang terjadi pada diri kita sedikit banyak berpengaruh pada hidup mereka.  Pada tahap-tahap tertentu bahkan sukanya kita bisa menjadi juga sukanya mereka, begitu pun sebaliknya. Dukanya kita serta merta juga menjadi dukanya mereka. Orang-orang itu bisa jadi adalah orang tua kita, saudara kita, teman kita, atau bahkan orang-orang yang tak pernah kita kenal sebelumnya tapi pernah berada di sekitar kita tanpa kita sadari. 

Jadi tidak benar kalau kita beranggapan bahwa hidup kita hanya milik kita sendiri. Apa yang kita lakukan akibatnya hanya kita yang menaggungnya sendiri. Di akhirat nanti memang begitu adanya. Apa yang kita lakkan itu yang kita tunai. Tapi tidak ketika di dunia ini. Akan selalu ada orang ikut menagis ketika kita tertimpa sebuah bencana. Ada yang ikut tertawa ketika kita memperoleh karunia. Ada yang ikut tergerak melakukan hal yang sama ketika mencoba melakukan sebuah kebaikan begitu juga keburukan. 

Belum lagi kalau kita melihat dari prespektif bahwa apa yang pernah kita raih di dunia ini tidaklah murni hanya karena kerja keras kita. Sekecil apaun keberhasilan itu kita akan selalu merepotkan orang lain dalam meraihnya. Karena memang kita tak pernah bisa hidup sendiri. Kita akan selalu membutuhkan orang lain. Terlalu angkuh kalau kemudian kita mengklaim segala kesuksesan yang pernah kita raih adalah karena kehebatan pribadi kita saja. Belum lagi kalau kita berbicara soal kuasa Tuhan. Maka semakin kecillah ”kehebatan” diri kita yang selama ini kita banga-banggakan. 

Hingga akhirnya kita menyimpulkan ternyata hidup kita memang benar-benar bukan milik kita sendiri saja. Lalu mengapa kita tidak mulai berpikir untuk berbagi dalam hidup ini. Mengapa kita tidak mulai melakukan sesuatu yang bisa menginspirasi orang lain untk melakukan hal-hal baik. Mengapa kita tidak mulai berpikir dua kali unuk melakukan kesalahan. Kesalahan yang bisa merugikan tidak hanya diri kita sendiri tapi juga orang lain. Mengapa kita tidak berhenti melakukan hal-hal yang bodoh yang membuat orang di sekitar kita selalu mencemaskan kita. 

Hingga bagaimana mungkin kita bisa menjalani hidup ini dengan prinsip “semau gue”.  Semau gue menetukan apa yang kita suka dan kita benci atas dasar egoisme kita sendiri tanpa memandang orang lain dalam memutuskannya.
 

Most Reading

Ads 200x200

Sidebar One