Terkadang hidup kita, ternyata tidak murni
hanya milik diri kita sendiri. Ada
banyak orang yang tanpa kita sadari menggantungkan keberlangsungan hidupnya
pada diri kita. Atau setidaknya apa-apa yang terjadi pada diri kita sedikit
banyak berpengaruh pada hidup mereka.
Pada tahap-tahap tertentu bahkan sukanya kita bisa menjadi juga sukanya
mereka, begitu pun sebaliknya. Dukanya kita serta merta juga menjadi dukanya
mereka. Orang-orang itu bisa jadi adalah orang tua kita, saudara kita, teman
kita, atau bahkan orang-orang yang tak pernah kita kenal sebelumnya tapi pernah
berada di sekitar kita tanpa kita sadari.
Jadi
tidak benar kalau kita beranggapan bahwa hidup kita hanya milik kita sendiri.
Apa yang kita lakukan akibatnya hanya kita yang menaggungnya sendiri. Di
akhirat nanti memang begitu adanya. Apa yang kita lakkan itu yang kita tunai.
Tapi tidak ketika di dunia ini. Akan selalu ada orang ikut menagis ketika kita
tertimpa sebuah bencana. Ada
yang ikut tertawa ketika kita memperoleh karunia. Ada yang ikut tergerak melakukan hal yang
sama ketika mencoba melakukan sebuah kebaikan begitu juga keburukan.
Belum
lagi kalau kita melihat dari prespektif bahwa apa yang pernah kita raih di
dunia ini tidaklah murni hanya karena kerja keras kita. Sekecil apaun keberhasilan itu kita akan selalu
merepotkan orang lain dalam meraihnya. Karena memang kita tak pernah bisa hidup
sendiri. Kita akan selalu membutuhkan orang lain. Terlalu angkuh kalau kemudian
kita mengklaim segala kesuksesan yang pernah kita raih adalah karena kehebatan
pribadi kita saja. Belum lagi kalau kita berbicara soal kuasa Tuhan. Maka
semakin kecillah ”kehebatan” diri kita yang selama ini kita banga-banggakan.
Hingga akhirnya kita menyimpulkan ternyata hidup
kita memang benar-benar bukan milik kita sendiri saja. Lalu mengapa kita tidak
mulai berpikir untuk berbagi dalam hidup ini. Mengapa kita tidak mulai
melakukan sesuatu yang bisa menginspirasi orang lain untk melakukan hal-hal
baik. Mengapa kita tidak mulai berpikir dua kali unuk melakukan kesalahan.
Kesalahan yang bisa merugikan tidak hanya diri kita sendiri tapi juga orang
lain. Mengapa kita tidak berhenti melakukan hal-hal yang bodoh yang membuat
orang di sekitar kita selalu mencemaskan kita.
Hingga bagaimana mungkin
kita bisa menjalani hidup ini dengan prinsip “semau gue”. Semau gue menetukan apa yang kita suka dan
kita benci atas dasar egoisme kita sendiri tanpa memandang orang lain dalam
memutuskannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar