Pages

Menulis

Minggu, 04 Desember 2011

Saya adalah tipe orang yang mudah jatuh cinta pada seseoarang yang bisa menulis dengan cerdas dan punya karakter. Apalagi ketika kemudian saya menemukan dia masih muda dan memiliki integritas dalam dirinya, beuuhh akan makin bertambah keterpesonaan saya padanya. Sering berandai-andai jika nanti bisa ditakdirkan hidup bersama dengan seorang penulis cerdas dan berkarakter, akan menjadi bahagialah hidup saya. Seperti akhir hidup cerita di dongeng-dongeng, happily ever after. Bahagia karena dia akan bisa menjadi pemuas dahaga dan tempat bertanya yang dapat dipercaya bagi saya yang selalu bertanya, mudah bingung ,memiliki jenis pikiran yang agak ruwet, tapi susah percaya dan bertanya ke sembarang orang.

Bagi saya menulis itu bukan pekerjaan yang mudah. Bagaimana meramu kata per kata , merangkai semua informasi dan lintasan-lintasan pikiran yang hadir di kepala menjadi sesuatu yang bisa dipahami dan memberi pelajaran yang membekas bagi pembaca. Apalagi untuk bisa menghasilkan sebuah karya yang masterpiece, tentu saja bukan pekerjaan yang mudah. Yang bisa memberi sudut pandang baru, kreatif, memiliki kedalaman makna, menginspirasi banyak orang, tak lekang dimakan masa dan lain sebagainya adalah syarat bagi karya-karya yang masterpiece.

Tapi menulis bukan hanya soal karya yang dibaca orang lain. Menulis juga bisa menjadi terapi jiwa. Membuat kita bisa lebih mengenal karakter diri kita sebenarnya. Bagi yang kesulitan kalau harus berbicara di depan publik bisa menjadi semacam latihan untuk belajar menyusun pemikiran-pemikiran yang di hadir di kepala menjadi lebih sistematis. Jadi saatnya nanti kalau harus berbicara di depan publik menjadi lebih mudah karena sudah terbiasa berpikir lebih sistematis. Dan kata-kata yang keluar pun lebih berbobot.

Menjadi lebih peka. Seorang penulis biasanya punya semacam kepekaan lebih dibanding yang lain. Kepekaan itu yang membuat ia selalu punya bahan untuk menulis. Kepekaan untuk bisa melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda dari orang kebanyakan. Tapi kepekaan tidak hadir begitu saja seperti wangsit yang turun dari langit. Ia butuh latihan dan waktu untuk belajar.

Dan yang pasti, ada satu rasa yang kenikmatannya tak pernah kau bayangkan sebelumnya. Kepuasan, pencapaian saat kau menyelesaikan sebuah tulisan adalah harta karun lain dari menulis. Walau mungkin tulisan tersebut tak pernah dibaca orang lain, hal itu menjadi tidak penting.

Masih terus berusaha keras belajar menulis yang baik. Yang tak sekedar rangkain kata tapi juga memiliki kedalaman makna. Mungkin sederhana, tetapi hidup. Yang membekas dan jujur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Most Reading

Ads 200x200

Sidebar One