Pages

I’am not the only one …

Minggu, 19 September 2010

Semua berawal dari mimpi. Ketika akhirnya konstaninopel bisa dibebaskan oleh tentara muslim dari cengkraman bangsa Romawi. Pembebasan pusat kekuasaan imperium Romawi itu, kata seorang orientalis Hamington Gibbs, adalah mimpi kaum Muslimin delapan abad yang lalu.

Delapan abad tentu bukanlah waktu yang singkat. Tapi dalam kurun waktu delapan abad itu kaum muslimin dengan luar biasa mampu memelihara mimpi mereka untuk menakhlukkan konstaninopel. Ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Bisa dibayangkan, pada masa abad-abad sebelumnya adalah masa penuh dengan keterseokan dan usaha-usaha yang berujung pada kegagalan. Kegagalan yang sering disingkapi dengan keterputusasaan oleh kebanyakan kita. Tapi keyakinan mereka yang kuat dengan janji Allah melalui Rosul-Nya membuat kaum muslimin pada masa itu selalu punya gairah untuk mewariskan mimpi tersebut ke generasi di bawah mereka. Mereka ingin generasi-generasi selanjutnya tetap memiliki mimpi yang sama dan mau meneruskan mimpi mereka, menakhlukkan konstaninopel. Dan sejarah kemudian membuktikan, mimpi penakhlukan konstaninopel akhirnya terwujud menjadi kenyataan.

Semua memang berawal dari mimpi. Tapi bukan berarti hanya dengan bermimpi semua asa dan cita kita dapat tercapai. Tentu butuh tahap selanjutnya, yaitu usaha yang tak kenal lelah dan doa yang terus dilantunkan. Karena berani bermimpi, itu berarti harus berani mewujudkan. Itulah pemimpi yang produktif. Ketika kau hanya berani bermimpi tapi selalu takut untuk mewujudkannya, itu sama saja dengan mendidik jiwa-jiwa kita untuk menjadi sosok sang pungguk yang selalu merindukan sang bulan. Itu sangat menyiksa. Dan kalau kau tahu bagaimana akhir hidup sang pungguk merindukan bulan? Kalau tidak mati kesepian, mungkin mati dalam kesedihan. Tak ada yang bisa dikenang dari dirinya selain bahwa ialah sosok pemimpi yang tak pernah berani mewujudkan mimpinya.

Sesekali jatuh pada proses mewujudkan mimpi itu manusiawi. Tidak menjadi manusiawi lagi ketika setiap kesalahan yang kita lakukan tidak memberikan hikmah sedikit pun pada diri kita. Cirinya jelas, ketika ternyata kita selalu jatuh pada lubang yang sama. Namun bukan berarti kesalahan-kesalahan itu membuat kita takut untuk bermimpi. Milikilah mimpi yang baik-baik, setinggi-tingginya, dalam segala hal, dalam setiap sisi kehidupan kita. Mimpi itu membuat hidup kita lebih berirama. Dan tidak ada yang lebih indah selain hidup yang dinamis penuh irama naik turunnya.

Kalau Jonh Lennon kemudian mengatakan dalam imagine-nya “ You may say I’m a dreamer but I’m not the only one”. Maka katakanlah pada dirimu “ Yes, and I’m the one”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Most Reading

Ads 200x200

Sidebar One